Harry Potter

Jumat, 14 Oktober 2011

Jenjang Menjadi Duta Besar

DI TELEVISI, kita sering mendengar istilah duta besar yang merupakan jabatan paling tinggi dalam dunia diplomatik. Dalam pekerjaan sehari-hari, ia dapat disetarakan dengan pejabat setingkat menteri yang ditempatkan di negara asing.
Untuk menjadi seorang duta besar, banyak jenjang karier yang harus dilalui, mulai atase, sekretaris ketiga, sekretaris kedua, sekretaris pertama, counselor, minister counselor, minister, hingga akhirnya menjadi duta besar.
Menurut Direktur Sekolah Dinas Luar Negeri Ben Perkasa Drajat, untuk mencapai tiap jenjang, diplomat paling tidak membutuhkan waktu empat tahun. “Secara keseluruhan paling cepat bisa 15 tahun. Akan tetapi, umumnya, mereka butuh sekitar 20 sampai 30 tahun untuk menjadi seorang duta besar,” katanya.
Dalam beberapa kasus, jabatan duta besar kadang diberikan kepada seseorang di luar sistem penjenjangan itu oleh Presiden. Jabatan itu diberikan dengan pertimbangan jasa dan kemampuan tertentu.
Di Indonesia sendiri, ada beberapa duta besar yang mengukir sejarah yang cukup penting untuk diplomasi negara Indonesia di dunia internasional. Mereka juga telah menekuni bidang diplomasi dari usia yang cukup muda. Siapa saja mereka? Yuk, kita lihat!
Ali Alatas
Perjalanan tokoh dengan latar belakang pendidikan Fakultas Hukum UI dan pendidikan diplomat di Akademi Dinas Luar Negeri ini dimulai pada usia yang cukup muda. Di usia yang ke-20, tokoh ini telah bekerja sebagai jurnalis di salah satu kantor berita di Jakarta. Dua tahun kemudian, ia didaulat sebagai sekretaris kedua di Kedutaan Besar RI di Bangkok. Ketika memasuki usia 33 tahun, dia telah bekerja di Departemen Luar Negeri (sekarang Kementerian Luar Negeri), yang dilanjutkan dengan jabatan sebagai konselor Kedutaan Besar RI di Washington (1966-1970).
Salah satu perannya yang cukup besar adalah saat menjadi fasilitator pihak yang terlibat konflik Kamboja, hingga tercapainya kesepakatan damai pada 1996. Atas keberhasilannya, presiden Filipina pada waktu itu, Fidel Ramos, menyebut Indonesia sebagai <>the best negotiator in the world<>. Selain itu, Ali Alatas juga menjadi orang terdepan saat Indonesia memimpin Gerakan Non-Blok pada 1993-1995.
Atas banyaknya kontribusi yang diberikan pada negara, dia mendapatkan berbagai penghargaan dari pemerintah, antara lain Bintang Adi Mahaprana, Bintang Republik Indonesia, dan gelar Pahlawan Masa Kini sebelum ia wafat pada usia 76 tahun.
Marty Natalegawa
Tokoh Indonesia kelahiran Bandung, 22 Maret 1963, ini sudah berkecimpung di dunia diplomasi sejak usia yang sangat muda. Dubes Marty, sapaannya, telah menjalani kehidupan di luar negeri sejak berada di bangku sekolah.
Masa SMP dan SMA dihabiskan di Singapore International School, kemudian dilanjutkan ke Inggris. Pendalaman materi tentang hubungan internasional ia jalani dengan berkuliah di London hingga meraih gelar Doctor of Philosophy in International Relations dari Australian National University pada 1993. Empat tahun kemudian, ia dipilih sebagai perwakilan RI urusan politik untuk PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) di New York.
Kiprah Marty di PBB mulai menonjol ketika ia mewakili Indonesia sebagai satu-satunya negara yang bersikap abstain ketika Dewan Keamanan PBB ingin menjatuhkan sanksi terhadap Iran atas kasus sengketa bom, dengan alasan pemberian sanksi itu bukanlah solusi terbaik untuk Iran.
Kemampuan diplomasi Marty membawanya menuju peningkatan karier yang cukup pesat. Tidak mengherankan, hingga saat ini, Marty menjadi diplomat termuda Indonesia yang telah memegang diplomasi Indonesia untuk negara-negara penting seperti Inggris, Amerika, dan Jepang. Wow!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar