Untuk menjadi seorang duta besar, banyak jenjang
karier yang harus dilalui, mulai atase, sekretaris ketiga, sekretaris
kedua, sekretaris pertama, counselor, minister counselor, minister, hingga akhirnya menjadi duta besar.
Menurut Direktur Sekolah Dinas Luar Negeri Ben
Perkasa Drajat, untuk mencapai tiap jenjang, diplomat paling tidak
membutuhkan waktu empat tahun. “Secara keseluruhan paling cepat bisa 15
tahun. Akan tetapi, umumnya, mereka butuh sekitar 20 sampai 30 tahun
untuk menjadi seorang duta besar,” katanya.
Dalam beberapa kasus, jabatan duta besar kadang
diberikan kepada seseorang di luar sistem penjenjangan itu oleh
Presiden. Jabatan itu diberikan dengan pertimbangan jasa dan kemampuan
tertentu.
Di Indonesia sendiri, ada beberapa duta besar yang
mengukir sejarah yang cukup penting untuk diplomasi negara Indonesia di
dunia internasional. Mereka juga telah menekuni bidang diplomasi dari
usia yang cukup muda. Siapa saja mereka? Yuk, kita lihat!
Ali Alatas
Perjalanan tokoh dengan latar belakang pendidikan
Fakultas Hukum UI dan pendidikan diplomat di Akademi Dinas Luar Negeri
ini dimulai pada usia yang cukup muda. Di usia yang ke-20, tokoh ini
telah bekerja sebagai jurnalis di salah satu kantor berita di Jakarta.
Dua tahun kemudian, ia didaulat sebagai sekretaris kedua di Kedutaan
Besar RI di Bangkok. Ketika memasuki usia 33 tahun, dia telah bekerja di
Departemen Luar Negeri (sekarang Kementerian Luar Negeri), yang
dilanjutkan dengan jabatan sebagai konselor Kedutaan Besar RI di
Washington (1966-1970).
Salah satu perannya yang cukup besar adalah saat
menjadi fasilitator pihak yang terlibat konflik Kamboja, hingga
tercapainya kesepakatan damai pada 1996. Atas keberhasilannya, presiden
Filipina pada waktu itu, Fidel Ramos, menyebut Indonesia sebagai
<>the best negotiator in the world<>. Selain itu, Ali Alatas
juga menjadi orang terdepan saat Indonesia memimpin Gerakan Non-Blok
pada 1993-1995.
Atas banyaknya kontribusi yang diberikan pada negara,
dia mendapatkan berbagai penghargaan dari pemerintah, antara lain
Bintang Adi Mahaprana, Bintang Republik Indonesia, dan gelar Pahlawan
Masa Kini sebelum ia wafat pada usia 76 tahun.
Marty Natalegawa
Tokoh Indonesia kelahiran Bandung, 22 Maret 1963, ini
sudah berkecimpung di dunia diplomasi sejak usia yang sangat muda.
Dubes Marty, sapaannya, telah menjalani kehidupan di luar negeri sejak
berada di bangku sekolah.
Masa SMP dan SMA dihabiskan di Singapore
International School, kemudian dilanjutkan ke Inggris. Pendalaman materi
tentang hubungan internasional ia jalani dengan berkuliah di London
hingga meraih gelar Doctor of Philosophy in International Relations dari
Australian National University pada 1993. Empat tahun kemudian, ia
dipilih sebagai perwakilan RI urusan politik untuk PBB (Perserikatan
Bangsa-Bangsa) di New York.
Kiprah Marty di PBB mulai menonjol ketika ia mewakili
Indonesia sebagai satu-satunya negara yang bersikap abstain ketika
Dewan Keamanan PBB ingin menjatuhkan sanksi terhadap Iran atas kasus
sengketa bom, dengan alasan pemberian sanksi itu bukanlah solusi terbaik
untuk Iran.
Kemampuan diplomasi Marty membawanya menuju
peningkatan karier yang cukup pesat. Tidak mengherankan, hingga saat
ini, Marty menjadi diplomat termuda Indonesia yang telah memegang
diplomasi Indonesia untuk negara-negara penting seperti Inggris,
Amerika, dan Jepang. Wow!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar